BERMALAM DI LAPANGAN GADING
BERMALAM
DI LAPANGAN GADING
(Malam Ilham di Bawah Langit
Ciptaan-Nya)
Di sela sunyi lapangan
Gading, malam menyelimuti jiwa,
Bulan purnama melingkar
sempurna,
Menyiram bumi dengan cahaya
lembutnya,
Sebagaimana rahmat yang turun
tanpa batas.
Kami berempat terbaring di
atas hamparan sepi,
Letih mengendur seperti senja
yang menyerah pada gelap,
Namun hati tak pernah
mati—
Melihat langit lazuardi yang
dihiasi taburan bintang,
Berkelip seperti doa-doa
kecil yang naik menggema.
Sesuai firman-Nya:
"Dialah yang
menjadikan malam untuk istirahatmu,
Dan siang untuk mencari
karunia-Nya,"
Maka kami diam, bukan hanya
tubuh,
Tapi juga jiwa belajar
berserah.
Langit tidak hanya kubah
biru,
Tapi kalender ilahi yang
tertulis rapi;
"Dia menetapkan
matahari dan bulan di jalurnya,
Agar kamu ketahui hitungan
waktu dan tahun,"
Setiap geraknya adalah ayat,
setiap sinarnya adalah nasihat.
Bulan berbicara dalam
diam,
"Subhanallah…",
desisnya pelan.
"Alhamdulillah…"
mengalir ke telinga sanubari.
“La ilaha illallah…”
meneguhkan iman
Bintang-bintang berkumandang
takbir,
"Allahu akbar…",
lirih mereka di kejauhan.
Angin pun membawa
dzikir,
Puisi alam ini menggosok jiwa
yang berdebu,
Menyulam semangat baru dari
serpihan cahaya-Nya,
Meneguhkan keyakinan bahwa
segala yang besar
Pasti menyimpan keindahan
yang lebih besar.
Lapangan Gading Juni
1979
Saat malam menjadi guru,
Dan langit menjadi kitab yang
terbuka.
*****
Lapangan Gading, medio Juni 1979
Karya: Budiyono

0 Response to "BERMALAM DI LAPANGAN GADING"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar