Dewaruci 1
Dewaruci 1
Di tepi Parangtritis berbisik angin,
laut selatan membentang biru tak terkira
di sela debur ombak yang tiada henti,
aku melihat setengah bola raksasa
mengurung langit dan bumi dalam diamnya.
Lalu muncul bayangan legenda lama:
Dewaruci, sang pencari jati diri,
yang pernah menyelam dalam gelap samodra minangkalbu,
menyusuri lorong-lorong jiwa yang gelisah.
Bimasena, ksatria gagah perkasa,
terjun menembus gelombang amuk naga raksasa,
ditelan arus tipu daya politik,
oleh tangan licik Duryudana dan Sengkuni.
Namun, atas kuasa Yang Maha Esa,
dia tidak binasa,
namun dibawa ke kerajaan yang tak terlihat,
tempat nurani bertemu wahyu Ilahi.
Di sana ia menerima dua anugerah:
Kayu Gung Susuhe Angin,
pohon besar yang berlubang di tengah,
dengan kulit hewan membungkus kedua sisi,
disebut bedug, yang ditabuh sebagai penjaga waktu.
Dan Air Perwitasari,
air suci yang mengalir dari mata air keabadian,
air amrta yang membersihkan jiwa,
sebelum berdiri tegak di hadapan-Nya.
Wahai putra Pandu,
bedug itu bukan sekadar kayu,
tapi hati yang dipukul oleh waktu,
penanda bahwa manusia adalah musafir di bumi ini,
seperti sabda Rasulullah:
"Jadilah engkau di dunia ini
seperti orang asing atau seorang musafir." (HR.
Bukhari-Muslim)
Shalat lima waktu adalah tapak-tapak perjalanan,
menuju Gunung Candra Muka, bulan purnama
yang menyinarinya dari kejauhan.
Ketika adzan berkumandang,
sambutlah panggilan itu dengan langkah ringan,
ke masjid atau mushola, tempat iman bersatu,
bersihkan diri dengan air suci,
dan sujudlah pada Yang Tunggal.
Hidup ini bukanlah sandiwara,
bukan arena ambisi atau kepalsuan,
tetapi medan pengabdian,
setiap napas adalah dzikir,
setiap langkah adalah ibadah.
Byurrr…
Ombak menghantam batu karang,
menggugah lamunan yang sempat melayang tinggi,
aku kembali berdiri di tepi samudera nyata,
memandang cakrawala tanpa ujung,
seperti seorang musafir yang belum sampai tujuan.
Tetapi kini,
di dalam dada berdebar semangat Dewaruci,
yang mengajarkan:
bahwa sesungguhnya kita semua
sedang menuju satu destinasi—Allah.
*****
Budiyono
Cawas, pertengahan Juni 1979
(puisi diinspirasi dari legenda, hadis, dan filsafat hidup)
Catatan Tambahan untuk Pembaca:
Puisi ini mencoba menghubungkan antara:
Mitos Bima Sakti dan Dewaruci sebagai metafora pencarian jati diri,
Hadis Nabi tentang hidup sebagai musafir yang mengingatkan kita untuk
tidak larut dalam dunia fana,
Simbol-simbol spiritual seperti bedug, air wudlu, dan bulan sebagai
manifestasi nilai-nilai Islami yang mendalam.

0 Response to "Dewaruci 1"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar