SENJA DI KOTA WONOSARI
SENJA DI KOTA WONOSARI
(Pertunjukan Wayang Purwa Cahaya dan Petuah Hati)
Di penghujung siang yang kian redup,
di sela kabut senja Kota Wonosari,
Allah taburkan kedamaian dalam gema malam minggu,
ketika cahaya lampu pradaban menyala,
dan wayang kulit pun berdiri di balik kelir.
Sebuah pagelaran seni yang luhur,
warisan leluhur penuh makna,
dihidupkan oleh suara gamelan yang melodi,
dan gemulai tangan dalang yang bijaksana.
"Dan dirikanlah kesenian dengan keindahan yang halal,"
demikian firman-Mu (Al-A’raf/QS.7:32)
Kami duduk bersimpuh di lapangan tanah berumput,
bersama tua dan muda, laki dan perempuan,
semua hadir dalam suka cita yang terjaga,
menikmati seni yang tak sekadar hiburan,
namun jembatan untuk menapak nilai-nilai Ilahi.
Empat jiwa muda berdebar riang,
mengikuti alur cerita Mahabharata,
satu demi satu petuah mengalir pelan,
seperti air wudlu yang membasuh jiwa,
memberi teladan hidup yang utuh.
Dalam tirai cahaya dan bayangan,
aku bertemu seorang gadis jelita,
Menik namanya—seperti embusan angin surga,
wajahnya bagai bulan purnama di langit malam,
tersimpan dalam hatiku tanpa dusta.
Namun lebih dari itu, wahai Sang Khalik,
seni wayang purwa ini adalah simbol ketundukan,
setiap goresan kulit dan warna wayang,
penuh lambang budi dan akhlak mulia,
ajaran tauhid yang terselip dalam cerita.
Wayang Purwa tidak hanya ukiran kulit, kayu dan kain,
tapi cermin fitrah manusia yang mencari Tuhan,
sebagaimana sabda Rasul:
"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan."
Sayang, zaman berganti seperti pasang surut,
seni tradisi terpinggirkan oleh gelombang modernitas,
yang kadang hilang arah, lupa asal,
tanpa pegangan moral dan spiritual.
Namun di tengah keramaian dan sunyi,
wayang tetap tegak, setia pada pesannya,
cekatan dalang memainkan lakon dan golek,
menyampaikan amanat dengan penuh hikmah.
Irama gamelan menjadi dzikir tak berkata,
kelir menjadi hijab antara dunia dan ilusi,
dan setiap adegan adalah ibarat kehidupan,
yang mengajak kita merenung,
lalu mencari simpulan makna dalam diri.
Wahai Allah Yang Maha Indah,
jadikanlah seni ini sebagai jalan taqarrub,
sarana pendidikan akhlak dan iman,
serta pancaran nilai-nilai-Mu yang abadi.
Aamiin.
***
Alun-alun
Kota Wonosari, Tengah Juni 1979
Budiyono

0 Response to "SENJA DI KOTA WONOSARI "
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar