BERJALAN DI BAWAH CAHAYA BULAN
BERJALAN DI BAWAH CAHAYA BULAN
kami berjalan seperti embusan angin lentera,
di antara dedaunan yang berkilauan—
seolah-olah bulan menari bersama jiwa kami.
Sepanjang jalan Wonosari menuju Gading,
cahaya rembulan mengalir bagai sungai perak,
mengilhami langkah, menerangi sejarah silam
yang terpatri dalam debu kenangan.
Bulan bukan hanya penjaga langit,
tapi juga sahabat yang setia menyinari
perjalanan yang tak sekadar melintasi jarak,
namun juga menyusuri lorong-lorong masa lalu.
Kami berempat bernyanyi pelan,
suara riang menggema seperti anak kecil dulu,
ketika bulan purnama tiba,
dan halaman rumah menjadi panggung dunia.
Gobak sodor, jamuran, canda riuh tanpa beban—
masa kecil yang kini tertutup kabut waktu,
tapi masih hidup dalam irama lagu
dan bisikan daun-daun di tepi jalan.
Alam seakan berkata:
"Lihatlah betapa indahnya ciptaan-Ku,
yang tiada dicipta sia-sia."
Dan di dada, api semangat kembali menyala,
dihidupkan oleh cahaya-Nya yang tenang namun menggairahkan.
Langkah kami berlabuh di Lapangan Gading,
tempat langit biru membuka selimutnya,
dan tubuh melepas lelah dalam hening malam.
Namun tak lama, malam pun berubah.
Datanglah penjaga kantor desa,
santun mengajak kami beristirahat di balai desa,
tempat sunyi menggantikan riuh binatang malam,
dan mimpi-mimpi mulai menari dalam pekat.
Subuh menjelma dengan adzannya yang suci,
mengetuk hati yang sempat terlelap,
setelah dzikir dan doa mengalir seperti air wudhu,
kami bangkit melanjutkan langkah.
Sebelum pergi, kami tinggalkan surat di atas meja,
ucapan syukur dalam huruf-huruf diam,
karena pintu masih tertutup,
dan kata-kata belum sempat terlafadzkan.
Selamat tinggal, Gading…
kata batinku yang tersimpan rapi,
seperti bulan yang kembali pergi
sebelum fajar sepenuhnya menjelma.
*****
Gading-Wonosari,
Medio Juni 1979
Karya:
Budiyono

0 Response to "BERJALAN DI BAWAH CAHAYA BULAN"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar