WARUNG KECIL DI PINGGIR JALAN
WARUNG KECIL DI PINGGIR JALAN
(Ikhtiar, Doa, dan Keyakinan di Tepi Takdir)
Sebuah warung kecil beratap reyot,
di tepi jalan pasar Wonosari yang ramai,
menjadi sawah dan ladang penghidupan,
tempat ikhtiar bertaut dengan doa,
dan harapan menggantung dalam sunyi.
Di sanalah Mbok Bakul setengah abad,
dengan kerudung lusuh dan senyum yang tak pernah padam,
berdiri tegak melawan waktu,
menggelar nasi bungkus dan sayur hangat,
sambil menanti langkah-langkah penat yang singgah.
Malam itu ia datang membawa keyakinan,
bukan hanya dagangan, tapi juga tawakal,
karena ia percaya, firman-Mu ya Allah:
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi
melainkan Engkaulah yang memberi rezekinya."(Hud/QS.11:6)
Ia kupas bawang, cincang cabai,
tumis harapan bersama bumbu dapur,
tiap tetes keringat adalah doa yang naik,
menuju Arsy-Mu yang penuh rahmat,
seperti janji-Mu: "Berdoalah kepada-Ku,
niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (Ghafir/QS.40:60)
Tidak selalu ramai, kadang sepi menyapa,
namun ia tak pernah mengeluh pada nasib,
karena ia tahu, bahwa usaha adalah kewajiban,
dan hasilnya adalah rahasia Ilahi,
sebagaimana firman-Mu ya Rabb:
"Seorang manusia tiada memperoleh selain
apa yang telah diusahakannya."(An-Najm/QS.53:39)
Kadang rejeki datang seperti hujan deras,
kadang hanya gerimis yang tersisa,
namun ia tetap setia di sini,
menjaga warung kecil itu dengan sabar,
sebab sabar dan tawakal adalah sahabat para pejuang hidup.
Warung itu bukan hanya tempat jual beli,
tapi juga medan dakwah kesabaran,
cermin ketundukan pada qada’ dan qadar,
tempat manusia biasa mencoba menjemput takdir,
dengan panci, sendok, dan dzikir di bibir.
Di antara desau angin dan riuh pasar,
warung itu berdiri sebagai simbol iman,
bahwa rezeki bukan hanya dari pembeli,
tapi juga dari Yang Maha Memberi Rezeki,
Yang Maha Mengetahui apa yang belum kasat mata.
***
Pasar
Wonosari, Medio Juni 1979
Budiyono

0 Response to "WARUNG KECIL DI PINGGIR JALAN"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar