BONGKAHAN BATU MELINTANG DI TENGAH JALAN
BONGKAHAN
BATU MELINTANG DI TENGAH JALAN
(Renungan
tentang rintangan, iman, dan empati)
Matahari menyelinap di ufuk
barat
Menjelang malam merayap,
lampu jalan meredup—
di atas aspal kulihat bongkah‑bongkah granit
berjejer seperti gigi raksasa,
menunggu telapak lengah yang lewat.
Langkahku terpeleset,
ujung kaki menampar batu;
nyeri menyusup hingga ke sumsum,
sementara hati berdesis,
“Siapa meletakkan jerat ini di tengah arus manusia?”
aku tersadar hingga firmanNya
“Jika kebaikan menyentuhmu, mereka bersedih;
jika bencana menimpamu, mereka bergembira.
Tetapi jika engkau bersabar dan bertakwa,
tipu daya mereka takkan membahayakanmu sedikit pun.
Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”
(QS Âli ‘Imrân 3:120)
Beginilah wajah dunia—
ada yang berseri melihat duka orang,
ada yang layu menyaksikan bahagia orang lain.
Rasa iri dituangkan ke jalan
sebagai bebatuan licik,
agar siapa pun tersandung
lalu tertinggal di belakang.
Namun Nabi Saw. mengingatkan:
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh
cabang;
yang paling tinggi ‘Lā ilāha illallāh’,
yang paling rendah menyingkirkan gangguan di jalan,
dan rasa malu adalah salah satu cabangnya.”
Maka kupungut satu demi satu batu itu—
kutepi‑kan ke pangkuan rerumputan,
seperti menyalakan lampu kecil
di lorong gelap empati.
Tak ada saksi selain bintang,
tak ada tepuk tangan selain detak dada;
namun mungkin malaikat tersenyum
mencatat gerak sederhana ini
sebagai sedekah sunyi.
Aku belajar malam itu:
setiap rintangan adalah ujian hati,
setiap batu titipan sabar,
setiap langkah peluang menumbuhkan iman.
Dan di balik gangguan sekecil duri
tersimpan kunci surga
bagi siapa pun yang sudi menyingkirkannya.
*****
Pinggiran Kota Wonosari, Medio Juni
1979
Budiyono

0 Response to "BONGKAHAN BATU MELINTANG DI TENGAH JALAN"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar