PEJALAN KAKI (II)
PEJALAN KAKI (II)
(Makan,
minum, dan perjalanan hati)
Kala mentari condong
lima belas derajat di ufuk barat,
kami rebahkan letih di tepian jalan,
setelah seharian menapak bumi Allah
dalam diam yang penuh makna.
Bakso hangat kami
nikmati,
dengan syukur terucap pada Rabbul ‘Alamin.
Salah seorang dari kami berbisik lembut, seakan khatib di mimbar:
“Wahai sahabat,
makanlah saat engkau lapar,
minumlah saat dahaga menyapa.
Jangan berlebih —
sebab hidup ini bukanlah untuk menghambakan diri pada rasa.
Hidup ini untuk menyembah-Nya,
dan makan adalah bekal untuk taat.
Ingatlah sabda
Rasulullah:
‘Sebutlah nama Allah,
makanlah dengan tangan kananmu,
dan makanlah dari
yang dekat denganmu’.
Sungguh kekuatan ini
milik Allah,
dan adab santun di meja adalah sunah kekasih-Nya.”
Hening sejenak.
Lalu tepuk tangan kecil pecahkan sepi,
dan kami tersenyum,
jiwa terasa sejuk, hati tercerahkan.
Kini, stamina terisi,
semangat pun membara kembali.
Kami pun berkemas —
melanjutkan perjalanan,
meninggalkan jejak-jejak kenangan
di jalan-jalan bumi yang penuh pelajaran,
seperti firman-Nya:
“Katakanlah:
‘Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai
penciptaan, kemudian Allah akan menjadikannya ciptaan yang baru. Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’.”
(Al-Ankabut:20)
“Katakanlah:
‘Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu’.
Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
(Ar-Rum:42)
Sungguh perjalanan ini
bukan sekadar langkah kaki,
tetapi ziarah hati meniti ayat-ayat semesta.
*****
Budiyono
Medio Juni 1979

0 Response to "PEJALAN KAKI (II)"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar