AKAN DATANG SUATU ZAMAN
AKAN DATANG SUATU ZAMAN
Akan datang suatu zaman,
Di mana iman bagai bara
di tangan,
Terbakar panas,
menyengat jiwa,
Namun ia tetap bertahan.
Bersabar dalam agama
bukan lemah,
Tapi laksana api yang
tak punah,
Di tengah gelombang
fitnah dan dusta,
Ia berdiri, tegak,
setia.
Akan datang suatu zaman,
tetua kita bicara:
zaman ini zaman edan—
tata nilai dibalikkan,
kebenaran dipenjara,
kedustaan dielu-elukan di panggung kekuasaan.
Yang waras terasa ganjil,
yang lurus terasa asing,
sebab dunia kini diputar oleh poros uang dan kuasa.
Siapa tak ikut edan, tak kebagian apa-apa;
siapa ikut edan, nuraninya tercabik
oleh pedang kemunafikan yang tajam di dua sisi.
Korupsi bukan
aib, tapi laku licik yang diagungkan.
Kolusi dan nepotisme menjelma gerbang kejayaan semu.
Janji tinggal janji,
rakyat ditimang-timang oleh pencitraan digital
yang gemerlap namun hampa.
Di sudut negeri,
anak-anak muda menggenggam ijazah
seperti kitab bisu—
tanpa koneksi, tanpa famili,
harapan menjadi bayang yang mengambang.
Yang miskin makin tenggelam
dalam rawa hutang dan pengangguran;
yang kaya membangun istana
dari peluh yang tak pernah dihitung.
“Jika amanah
disia-siakan, tunggulah kehancuran.”
(HR. Bukhari)
“Dan janganlah
sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…” (Al-Baqarah/QS.2:188)
Zaman edan,
ngèdan kok ora keduman,
nanging waras kok malah kélangan.
Maka ingatlah wasiat bijak leluhur kita:
“Sing eling lan
waspada iku kang slamet.”
(Yang ingat dan waspada, itulah yang selamat.)
Lebih baik kehilangan jabatan
daripada kehilangan akal dan iman.
Lebih baik miskin harta
daripada miskin harga diri dan takwa.
Karena dunia ini sudah tua,
seperti pelita yang sebentar lagi padam,
dan kita semua,
adalah pejalan menuju waktu yang tak bisa dibohongi.
*****
Cawas, 16 Februari 1980
Diperbarui dalam renungan yang lebih dalam, 15 Juli 2025
Budiyono

0 Response to "AKAN DATANG SUATU ZAMAN"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar