Berjalan Meniti Waktu
Demi masa—
setiap detik laksana embun pagi,
menetes di helai daun, lalu lenyap diserap tanah,
tak kembali, tak terganti, tak tertebus harga.
Kita berjalan di titian waktu,
di jalan yang rapuh diapit jurang kerugian,
di mana manusia, kata Sang Pencipta,
dalam kerugian nyata,
kecuali…
Mereka yang meniti dengan cahaya
iman,
laksana pelita di malam pekat,
menyapu gelap gulita dengan sinar
tauhid.
Mereka yang mengayuh amal shalih,
bagai perahu menembus gelombang zaman,
tak sekadar berlayar,
tapi membawa bekal ke dermaga akhirat.
Mereka yang saling menggenggam dalam
kebenaran,
ibarat pohon rindang meneduhkan sahabat di terik dunia,
menyeru dengan lembut,
menguatkan dengan hikmah,
agar tak tersesat di belantara tipu daya duniawi
Dan mereka yang menabur sabar,
bagai karang menantang gelombang fitnah,
tak runtuh diterpa badai,
tak lapuk dimakan waktu.
Wahai diri, tahun berganti,
apa jejak yang kau tinggalkan di pasir masa?
Jangan kau biarkan detikmu habis tanpa bekas,
seperti ombak yang hilang di pantai sepi.
Mari meniti jalan iman, amal, dan
nasihat suci,
di tahun baru ini, 1447 Hijriyah,
jadilah insan yang tak merugi—
yang waktu dan langkahnya,
jadi saksi menuju ridha Ilahi.
*****
Cawas, 1 Muharam 1447
27 Juni 2025

0 Response to "Berjalan Meniti Waktu"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar