-->

Dewaruci 2

Budiyono Dion, Bahasaku



Dewaruci 2

Di Tengah Samudera Batin

 

Aku masih berdiri di tepi samodra minangkalbu, 

tempat jiwa menggema seperti gema doa di masjid tua. 

Ombak terus membawa cerita lama, 

tentang perjalanan seorang musafir

 

Bimasena telah menerima wejangan pertama: 

bedug dan air suci,

simbol waktu dan kesucian. 

Tapi Dewaruci berkata lagi: 

"Wahai Bimasena , 

itu hanya permulaan dari pencarianmu."

 

Karena hidup ini bukan sekadar tabuhan bedug, 

bukan hanya siraman air wudlu di tangan, muka dan kaki

tapi juga perjalanan panjang melawan naga raksasa dalam diri: 

sombong, tamak, iri, dan lalai.

 

Gunung Candra Muka bersinar di langit malam, 

seakan menunjukkan jalan lurus, 

jalan yang dilalui oleh para nabi dan orang-orang saleh. 

Bulan tidak pernah gelap, 

meski dunia menyelimuti kita dengan kegelapan.

 

"Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, 

maka cukuplah Allah baginya." (At-Talaq/QS.65:3)

 

Maka aku pun berjalan, 

melewati rimba pikiran yang lebat, 

melintasi jurang keraguan, 

menerjang badai godaan dunia yang tiada henti.

 

Dewaruci hadir kembali, 

dalam bentuk sunyi di tengah ramainya dunia, 

dalam bisikan dzikir setelah adzan, 

dalam sajadah yang basah oleh air mata taubat.

 

Aku belajar dari Bimasena: 

bahwa menjadi ksatria bukanlah tentangnya pedang dan senjata, 

tapi tentang kemampuan mengendalikan diri, 

menundukkan ego, 

dan menjadikan shalat sebagai benteng jiwa.

 

"Shalat adalah mi’rajnya orang mukmin."(Hadis Qudsi)

 

Saat kaki melangkah menuju masjid, 

itu seperti langkah menuju cahaya bulan, 

menuju Gunung Candra Muka yang tak pernah pudar.

 

Aku kini pahami makna hadis itu: 

"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing 

atau seorang musafir."

 

Bukan penduduk tetap, 

tapi pengembara yang tahu tujuan. 

Bukan pemilik dunia, 

tapi penumpang sementara di atas bumi-Nya.

 

Byurrr… 

Ombak datang lagi, 

membawa debu waktu, 

pasir kenangan, 

dan jejak-jejak langkah mereka yang lebih dulu pulang.

 

Aku pandangi laut selatan yang luas, 

dan sadar: 

samodra itu adalah hatiku sendiri, 

yang kadang tenang, 

kadang menggelegak.

 

Namun kini, 

di dasar samodra itu, 

telah bersemayam Dewaruci, 

sang kapal ilahi, 

yang membawaku merapat ke pelabuhan akhir: 

ridha Allah.

*****

 

Budiyono 

Cawas, lanjutan Juni 1979 

(bersambung dalam perjalanan rohani)

 

Catatan Penyair:

Puisi DEWARUCI 2 ini mengambil tema perjalanan spiritual pasca pencerahan, di mana tokoh utama mulai memahami bahwa wahyu dan ajaran agama bukan hanya teori atau ritual, tetapi harus diwujudkan dalam perjuangan hidup sehari-hari. Puisi ini juga menekankan pentingnya dzikir, taubat, dan tawakkal, serta menggambarkan musafir sebagai metafora hidup seorang mukmin.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Dewaruci 2 "

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel