SILATURAHIM DI PERSIMPANGAN WAKTU
SILATURAHIM
DI PERSIMPANGAN WAKTU
Di jalan yang berdebu, di antara pohon
jati yang menguning,
kami bersua seorang sahabat lama —
bak bintang yang lama redup kini kembali menyala di langit persahabatan.
Salam kami berlabuh di bibir, menyapa dengan hangat
bagai embun yang menyejukkan pagi hari.
Kabar kami tanyakan, kabar kami
sampaikan,
seakan ingin menambal jarak yang lama merenggang.
Langkah kami berempat terhenti sejenak di rumahnya
yang bersahaja di pinggir jalan Semin-Karangmojo,
sebuah rumah yang menjadi saksi bisu
persaudaraan yang tak lekang dimakan usia.
Sahabat dari kampung seberang,
yang lama hilang di rimbunnya hari,
kini hadir lagi —
dan rindupun tumpah ruah tanpa sekat,
bagai hujan pertama menyapa tanah yang lama kering.
Kami disambut bak tamu agung,
hidangan tersaji beraneka rupa —
buah syukur yang bersemi di hati masyarakatnya,
bersih desa, sedekah bersama,
seperti firman Allah dalam An-Nisa ayat 1:
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (nama)-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sungguh, Allah
selalu menjaga dan mengawasimu."
Kami duduk dalam hangatnya kembul
bujana andrawina,
makan bersama, berbagi tawa dan doa,
seperti saudara yang disatukan rahim yang sama,
seperti akar-akar yang berpaut dalam tanah silaturahmi.
Tatkala waktu pamit menjelang,
tak hanya doa yang mengiringi langkah kami,
tapi juga bekal panganan digendongkan di ransel punggung kami,
lambang kasih yang tak ingin terputus di ujung jalan.
Sahabat kami berdiri di depan rumahnya,
matanya teduh memandang kami seraya berkata:
"Inilah rumahku, kawan.
Jika kelak kau melintas lagi,
jangan engkau biarkan silaturahmi ini tercerai.
Bukankah Rasul kita telah bersabda:
'Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya,
maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.'"
Kami mengangguk,
angin pagi menjelang siang
mengantarkan janji kami yang menggema dalam dada,
bahwa persaudaraan ini tak akan tercerabut,
sepanjang hayat, sepanjang jalan yang Tuhan bentangkan.
*****
Semin,
pertengahan Juni 1979
Karya:
Budiyono
Catatan: Puisi ini, dengan
sedikit revisi, ditulis ulang, (Sabtu Pahing, 16 Juni 1979 -- 16 Juni
2025) lahir setelah kami berempat pejalan kaki bertemu teman lama di jalan
Semin-Karangmojo (Selatan Pasar Semin) bernama “Sihman” (asal Kaliwanci-Pakisan),
yang telah lama hijrah di Semin, menyunting Gadis dan berumah tinggal di sana. Puisi
ini saya publikasikan untuk mengenang kembali kebaikan Beliau yang telah Almarhum.
Semoga kebaikan yang diperbuat untuk kami itu, menjadi amal jariahnya.

0 Response to "SILATURAHIM DI PERSIMPANGAN WAKTU"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar