-->

Puisi Rahmat yang Tak Terhingga

Budiyono Dion, Bahasaku

Puisi Rahmat yang Tak Terhingga

Ar-Raḥmānir-Raḥīm,
Dua kata yang bergetar dalam setiap jiwa,
Seperti air yang mengalir dari sumber tak terbatas,
Mengisi relung hati yang terkadang tandus,
Memberi kehidupan pada yang tampak dan yang tersembunyi.

Rahmat-Mu, lebih luas dari langit yang tanpa ujung,
Lebih lembut dari angin yang membelai pipi,
Seperti sinar mentari yang meski tersembunyi,
Tetap memberikan kehangatan pada bumi yang beku.
Kaulah yang melapangkan segala kesempitan,
Menyapu duka yang menimpa,
Menemani setiap langkah dengan kasih yang tak berkesudahan.

Raḥmān—Dalam setiap sentuhan, ada kasih yang menyelimuti,
Seperti pelukan ibu yang tak pernah lepas,
Yang menghangatkan jiwa yang lelah dan luka,
Yang memberi nafas baru dalam setiap detik yang berlalu.

Raḥīm—Dalam setiap detik, ada perhatian-Mu,
Seperti embun pagi yang menetes dengan lembut,
Menyegarkan jiwa yang haus akan cinta dan harapan,
Memberi rahmat yang tak terucapkan dalam kata,
Tapi terasa dalam hening malam, dalam doa yang mengalir.

Kaulah yang Maha Penyayang,
Yang dalam kasih-Mu, kami ditemukan,
Dalam rahmat-Mu, kami disatukan,
Dalam pelukan-Mu, kami merasa utuh,
Seperti pohon yang tumbuh subur di tanah yang subur,
Dipelihara oleh cinta yang tak pernah padam.

Ar-Raḥmānir-Raḥīm—
Nama-Mu adalah doa yang tak terucap,
Adalah harapan dalam setiap deru nafas,
Adalah cahaya yang menuntun di lorong gelap,
Adalah pelita yang tak pernah mati.

*****

Cawas, 3 Mei 2025

 



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi Rahmat yang Tak Terhingga"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel