-->

Budaya dan Bahasa Internasional

Budiyono Dion, Bahasaku



Budaya dan Bahasa Internasional

"Penguasaan bahasa internasional menjadi senjata wajib bagi setiap orang yang ingin memenangi pertarungan dalam segala aspek kehidupan masa kini termasuk dalam bidang pendidikan," katanya di Yogyakarta, (http://www.beritasatu.com , Sabtu: 10/5).
Kutipan di atas  dinyatakan oleh seorang  pakar pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, Zamzani. Pernyataan itu agaknya mengganggu pikiran saya. Mengapa bahasa menjadi modal utama  untuk dapat bersaing dalam era globalisasi. Bukankah hasil kebudayaan yang dapat digunakan dalam  persaingan global.  Sebab yang menjadi tolok ukur kemajuan bangsa adalah  hasil kebudayaan manusia, hasil olah pikir, olah rasa dan olah karsa manusia. Bahasa hanyalah wadah budaya itu, walaupun kita akui pula bahwa bahasa sekaligus juga menjadi alat pembentuk kebudayaan. Namun dalam persaingan global adalah hasil kebudayaannya dan bukan bahasa.
Posisi bahasa dalam hal persaingan global sebatas sebagai alat pencari ilmu, pemahaman dan pendalaman ilmu dan budaya yang terkandung dalam bahasa itu. Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Membicarakan bahasa tidak lepas dari pembicaraan budaya atau kebudayaan. Bahasa  merupakan dasar dari kebudayaan, sekaligus bagian dari kebudayaan. Dengan bahasa kita dapat mengetahui budaya orang lain, dan suatu bangsa dapat tercermin dari kebudayaannya. Kebudayaan  inilah yang menjadi simbol keunggulan, kemajuan suatu bangsa.
Kehancuran Jepang setelah perang dunia II, membangkitkat semangat bangsa Jepang untuk membangun negerinya yang telah porak poranda karena bom atom AS di tahun 1945. Jepang sadar, untuk membangun negerinya itu diperlukan intelektual yang dapat menerjemaahkan ilmu dari negeri asing kedalam karya nyata. Ilmu itu kemudia diimpor dari Negara maju  dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Kemudian pemerintah  dan guru memberdayakan dunia pendidikan dengan penerapan  ilmu yang telah impor dan diterjemahkan itu kedalam bahasa Jepang .
Selain menerjemahkankan buku-buku asing, Jepang juga mengirim mahasiswanya ke luar negeri, dan mengundang tenaga dosen di negerinya.
Pengalaman Jepang dalam proses sejarah mengembangkan modernisasi, khususnya dalam peranan pendidikan dan soal-soal yang dihadapinya, sejak Jepang memasuki masa Reformasi Meiji pada tahun 1868. Sejak tahun 1960 sampai tahun 1980-an, Jepang telah mencapai kemajuan ekonomi yang pesat sekali dan sebagai hasilnya, Jepang sekarang ini dapat dihitung sebagai salah satu negara utama dan maju.  Honda, Yamaha, Suzuki, Kobota, Dhaihatzu, dan jenis otomotif lainnya telah mengisi khazanah budaya modern sekarang ini. Dunia otomotif salah satunya hasil karya, hasil kebudayaan Jepang itulah yang dapat bersaing ditingkat global, bukan bahasa Jepang.  Tetapi; Honda, Yamaha, Suzuki, Kobota, Dhaihatzu dan lain-lain hasil kebudayaan Jepang itu memberikan kontribusi besar terhadap budaya dan bahasa Internasional.
Bahasa internasional penting bagi para pencari ilmu, tetapi bukan untuk bersaing dan ingin memenangi pertarungan dalam segala aspek kehidupan masa kini.  Yang dapat memenangi dalam persaingan global adalah  hasil kebudayaan suatu bangsa yang bernilai tinggi. Bangsa Indonesia selama ini baru menyumbang bahasa Internasional melalui hasil budaya (seni budaya khususnya); Borobudur, gamelan, wayang, Komodo, reog, dan Batik, dan  lain-lain, yang merupakan hasil budaya bangsa Indonesia yang diperhitungkan dunia. Bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional, karena Inggris menjadi Negara modern pertama-tama di dunia dengan karya-karya besarnya di bidang industri. Suatu  bangsa yang dapat menciptakan karya-karya besar bagi kemaslahatan kehidupan umat manusia, memiliki peluang menjadi bahasa internasional.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya dan Bahasa Internasional"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel