-->

Bahasa Pintu Masuk Budaya

Budiyono Dion, Bahasaku



Bahasa Pintu Masuk Budaya

Program Studi (Prodi) Bahasa Indonesia menjadi prodi paling diminati mahasiswa asing yang berkuliah di Ghuangdong University of Foregn Studies Republik Rakyat Tiongkok (RTT). Dari empat bahasa yang ditawarkan perguruan tinggi tersebut Bahasa Indonesia paling banyak dipilih. Disusul Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Bahasa Arab.(http://www.pikiran.-rakyat.com 6/5/2014).


Sebuah berita yang menggembirakan bagi kita bangsa Indonesia pemilik bahasa Indonesia yang diminati bangsa asing. Apa yang diminati orang asing tentang bahasa itu, tidak lepas dari peminatannya tentang budaya yang terkandung di dalam bahasa itu. Berita tersebut juga mengingatkan saya pada buku karya Achdiat Karta Mihardja yang berjudul, Polemik Kebudayaan (Pustaka Jaya. 1977). Buku itu berisi rangkuman tulisan tentang polemik kebudayaan melalui media massa. Polemik Kebudayaan ini terjadi antara Agustus 1935-Juni 1939. Polemik terjadi antara dua kubu yang berbeda pandangan tentang kebudayaan Indonesia. Antara pihak Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan Sanusi Pane dan kawan-kawan.
Polemik bermula dari tulisan STA yang mempertanyakan, kebudayaan jenis apa yang sesuai bagi dan untuk dimiliki bangsa Indonesia yang baru lahir setelah peristiwa sumpah pemuda. STA menganggap, kebudayaan Indonesia baru bukanlah kebudayaan daerah yang dianggapnya sangat erat unsur kedaerahan, STA menyebutkan kebudayaan yang demikian itu berorientasi daerah sebagai provincialisme. Oleh STA kebudayaan yang demikian itu disebutnya  zaman Prae-Indonesia.
Sebaliknya Zaman Indonesia baru adalah zaman di mana bangsa Indonesia memiliki tujuan yang sama dan tidak mengagungkan sejarah dan potensi kedaerahannya. Zaman Prae-Indonesia adalah zaman di mana konsep bangsa Indonesia belum terbentuk dan tiap-tiap orang masih mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suku Jawa, Bugis, Maluku, dan lain-lain, bukan bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga dalam merumuskan kebudayaan Indonesia baru tidak dikaitkan dengan sejarah sebelum terbentuknya konsep bangsa Indonesia, dan itu harus dinafikkan. Kebudayaan Indonesia baru, baru dimulai dan dibangun serta didefinisikan mulai lahirnya sumpah pemuda. Untuk membangun dan mendefinisikan, bangsa Indonesia harus berkiblat ke Barat karena, Barat adalah Negara-negara yang telah mampu mengandalkan kemampuannya sebagai manusia untuk menaklukkan alam serta meningkatkan kualitas diri secara materi. Itulah ide STA dalam tulisannya yang berjudul, “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru” yang diterbitkan Pujangga Baru.
Pandangan STA tersebut mengundang polemik yang berkepanjangan. Pihak yang berselisih pandang dengan STA tentang kebudayaan Indonesia baru yang akan dibentuk adalah Sanusi Pane dan Purbatjaraka. Keduanya sepakat bahwa zaman sebelum nama bangsa Indonesia dideklarasikan adalah sejarah yang tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia baru. Kebudayaan Indonesia baru tidak lepas dari mata rante kebudayaan sebelumnya dan kebudayaan daerah. Idealnya kebudayaan Indonesia baru adalah menggali kebudayaan Timur, kebudayaan bangsa sendiri. Kombinasi antara Barat dan Timur, tidak bisa meninggalkan Timur yang telah mendarah daging dan mempengaruhi semua aspek keIndonesiaan. Itulah sebagian polemik yang terangkum dalam bukunya Achdiat Karta Miharja.
Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Membicarakan bahasa tidak lepas dari pembicaraan budaya atau kebudayaan. Bahasa  merupakan dasar dari kebudayaan, sekaligus bagian dari kebudayaan. Dengan bahasa kita dapat mengetahui budaya orang lain, dan suatu bangsa dapat tercermin dari kebudayaannya. 
Dilihat dari kenyataannya bahwa bahasa didukung oleh kebudayaan yang hidup dan merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari padanya. Bahasa itu adalah soko guru kebudayaan. Dipandang dari segi psikologi social kemapanan kedudukan dalam suatu lingkungan budaya tertentu menciptakan rasa aman bagi seseorang, sehingga tidak mungkin dituntut daripadanya untuk membuang kebudayaannya dan menggantikannya dengan suatu kebudayaan yang lain. Bahasa sebagai wadah dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya dan dari bahasa kita dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat kebudayaan suatu bangsa. Kebudayaan hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama berkembangnya masyarakat pemiliknya.
Melalui bahasa manusia 'menunjuk dunianya. Ia memberi nama-nama pada apa yang masuk dalam lingkungan pengamatannya. Seren¬tak dengan pemberian nama itu, ia pun memberi arti pada obyek-obyek pengamatannya. Akan tetapi bukan saja benda-benda yang diamatinya 'ditunjuk dengan nama', keadaan dirinya sendirl pun memperoleh arti yang juga harus mendapat 'nama'.. Maka apa yang kita sebut ‘narna benda’ adalah pertanda paling asasi bahwa manusia adalah makhluk yang cenderung memberi nama pada benda-benda yang memperoleh arti dalam lingkungan hidupnya.
Sebagai gejala budaya, bahasa adalah dinamis; bahasa tumbuh dan berkembang sejalan dengan rneningkatnya kemajemukan persepsi manusia terhadap makrokosmos (dunia sekitarnya), maupun mikrokosmos (dunia pribadinya). Bahasa dan kebudayaan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Bahasa merupakan hal yang paIing vital bagi kehidupan manusia. Tanpa bahasa sekiranya kebudayaan tidak dapat kita warisi dari nenek moyang  dan kita tidak dapat meneruskan kepada anak cucu mendatang.
Bahasa menjadi pintu masuk orang asing mempelajari kebudayaan yang ada dalam bahasa itu. Ketertarikan seseorang terhadap suatu bahasa tidak sekedar untuk mengerti bahasa itu, tetapi lebih ke dalam, ia juga ingin mengetahui budayanya. Bangsa Indonesia mempunyai perbenndaharaan kata/istilah; gamelan, karawitan, tari gambyong, reog, wayang dan lain-lain. Tentu saja orang asing tidak hanya sekedar mengetahui makna kata itu, lebih jauh ia akan mengetahui seperti apa wujud; gamelan, karawitan, tari gambyong, wayang dan lain-lain tersebut. Sampailah orang mempelajari kebudayaan itu. Sebab; gamelan, karawitan, tari gambyong, wayang itu termasuk kebudayaan Indonesia. Semakin kaya bahasa itu akan kebudayaan di dalamnya, semakin tinggi minat orang asing belajar bahasa Indonesia. Keagungan suatu budaya tidak hanya berkiblat kepada budaya asing, tetapi keragaman dan keunikan budaya yang dimiliki suatu bangsa, akan memiliki keunggulan dan daya tarik orang asing untuk mempelajarinya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bahasa Pintu Masuk Budaya"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel