-->

Benarkah Karya Sastra Kehilangan Daya Tarik?

Budiyono Dion, Bahasaku


Benarkah Karya Sastra Kehilangan Daya Tarik?

Dunia sastra hampir kehilangan simpati dari masyarakat di era modern seperti sekarang ini. Karya sastra seolah tidak memiliki daya tarik di tengah kerasnya dalam berebut kehidupan ini. Kebanyakan orang nyaris kehilangan rasa seni dalam menghadapi persaingan kehidupan untuk tetap hidup dalam kecukupan ekonomi. Sementara sastra tidak menjajikan kecukupan ekonomi untuk kehidupan ini. Sastra cenderung ditinggalkan kebanyakan orang. Maka  tidak aneh kalau yang tersisa di jiwa kebanyakan masyarakat tinggallah jiwa yang gersang, kekerasan, kejahatan semacam pembunuhan, penipuan hingga perilaku korupsi.
Komunitas Seniman dan Budayawan Jakarta Utara (KSBJU) mengatakan guru Bahasa Indonesia dan dosen Sastra Indonesia jarang membaca buku sastra. Hal itu, berpengaruh terhadap kualitas pemahaman sastra Indonesia pada generasi muda (Merdeka.com). "Guru-guru dan dosen, mereka kurang membaca maunya nonton. Zaman juga mempengaruhi, kalau dulu kita baca, karena jarang ada tontonan," kata Siti Artati, ketua umum KSBJU di Jakarta Islamic Center, Jumat (2/5).
Pernyataan tersebut banyak benarnya. Pembelajaran sastra Indonesia sekarang kurang menarik perhatian siswa. Hal itu menjadi alasan bagi sebagian guru kurang bersemangat dalam pembelajaran. Pembelajaran sastra menjadi tidak kreatif dan kurang inovatif. Kebanyakan guru hanya mengejar target. Metode pembelajaran banyak teori jarang dipraktikkan. Lagi pula guru sekarang hanya mengejar target lulusan. Walaupun kurang praktik bersastra, guru bangga jika diakhir Ujian Nasional muridnya banyak yang lulus, tetapi kering pengertiian. Siswa hanya banyak diberikan teori dan strategi menjawab soal ujian nasional. Alasannya jelas, jika banyak praktik, materi tidak akan  selesai. Budaya instan menjadi pilihan bagi masyarakat kita sekarang.
Tahun 70-an dan 80-an siswa SMP –SMA begitu banyak yang hapal puisi  dari beberapa penyair terkenal seperti Khairil  Anwar, WS.Rendra, Taufiq Ismail dan penyair terkenal lainnya.  Begitu juga dengan prosa, banyak siswa yang bercerita tentang novel-novel terkenal seperti Siti Nurbaya, Belenggu, Azab dan Sengsara, Layar Terkembang,  Tenggelamnya Kapal Van der wijck, Di Bawah Lindungan Kakbah dan lain-lain.  Begitu juga dengan seni pentas selalu penuh dengan pengunjung. Pada acara baca pusi dan pertunjukkan drama misalnya, selalu rame dikunjungi penonton.
Seni sastra kini seolah tidak memiliki daya tarik bagi siswa dan masyarakat luas. Pada suatu kesempatan saya di hadapan siswa bertanya, “aku ingin hidup seribu tahun lagi” itu penggalan pusinya siapa? Tidak satupun siswa satu kelas yang menjawab dan tahu penggalan puisi yang terkenal itu. Hal ini menjadi keprihatinan bagi guru bahasa Indonesia dan insan kesastraan. Sudah begitu jauhnya siswa jaman sekarang dari karya sastra.  Karya sastra pada angkatan terdahulu banyak yang tidak tahu,  dan karya yang sekarang pun lebih bingung dan lebih tidak tahu.
Pengaruh kemajuan teknologi sering menjadi alasan ketidaktertarikan siswa dan masyarakat terhadap karya sastra.  Siswa lebih suka menonton TV, bermain game, internet daripada membaca buku. Kemajuan teknologi tampaknya berpengaruh  terhadap rendahnya budaya baca. Banyak anak jaman sekarang yang malas membaca karena dimanjakan dengan kemajuan teknologi informasi. Benarkah karya sastra telah kehilangan daya tarik?  Pertanyaan ini tidak perlu jawab, hanya perlu instrofeksi diri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Benarkah Karya Sastra Kehilangan Daya Tarik?"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel