YOGYAKARTA 2
YOGYAKARTA
2
Di sela gema waktu yang berlari,
kau berdiri tenang—seperti doa yang tak pernah usai:
Yogyakarta,
kota kecil yang menyimpan jiwa besar,
tempat sejarah berbisik dalam angin Pramuka.
Kau adalah daun dalam buku kerajaan Mataram,
di mana Sultan-sultan pernah menorehkan tahta
dengan tinta emas keteguhan.
Dan di antara riuh zaman,
kau menjadi jantung Republik yang sempat berdetak di sini—
saksi bisu lahirnya Indonesia merdeka.
Walaupun kota kecil,
engkau bagai intan yang tidak perlu bersinar terang
untuk menunjukkan kemilau keindahanmu.
Damai selalu menyelimutimu,
seolah langit tidak ingin buru-buru meninggalkanmu.
Kampus-kampusmu adalah ladang ilmu,
tempat pelajar dari ujung tanah air
berdatangan seperti lebah mencari nektar.
Malioboro adalah nadinya,
jalan yang tidak pernah tertidur,
menyanyikan lagu-lagu perjuangan para pemuda.
Engkau juga benteng budaya,
di mana Keraton Yogyakarta masih menjaga adat,
dengan wibawa yang tak pernah luntur oleh zaman.
Seperti penjaga api yang setia,
tradisi dan kesenianmu tetap menyala.
Oh Yogyakarta,
kotamu bukan hanya batu dan bata,
tapi juga cerita,
bukan hanya gedung dan jalan,
tapi juga jiwa dan semangat.
Allah SWT berfirman:
"Dan pada penciptaan kamu dan apa-apa yang tersebar di bumi
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir."(Al-Jatsiyah/QS.45:4)
Dan aku berkata:
"Di kotamu, Yogyakarta, aku menemukan salah satu dari tanda
itu—
bahwa tempat bisa memiliki jiwa,
*dan bahwa sejarah bisa menjadi guru."
Rasulullah Saw. bersabda:
"Cintailah tanah airmu, karena mencintainya termasuk bagian
dari iman." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)
Dan aku pun mencintaimu, Yogyakarta—
bukan hanya karena masa lalumu,
tapi juga karena masa depan yang engkau bangun
melalui langkah-langkah mahasiswa,
melalui doa-doa di sudut masjid-masjidmu,
dan melalui senyum hangat wargamu.
Tapi malam ini,
aku harus pamit sejenak,
perjalanan menuju Parangtritis belum selesai.
Langkahku harus terus maju,
meskipun hatiku ingin tetap tinggal di sini,
di pangkuan ketenanganmu.
Sampai jumpa lagi, Yogyakarta…
semoga kita bertemu lagi di hari yang lebih baik,
dengan jiwa yang lebih matang,
dan cinta yang semakin dalam.
*****
Yogyakarta,
Medio Juni 1979
Karya: Budiyono

0 Response to "YOGYAKARTA 2"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar