-->

JEMBATAN KALI OPAK TERPUTUS

 


JEMBATAN KALI OPAK TERPUTUS

 

 Di sela alur waktu yang tak terhenti, 

mengalirlah Kali Opak—sungai harapan, 

airnya bening bagai cermin jiwa, 

mengaliri sawah-sawah yang menanti tumbuh, 

dan hati para petani yang percaya pada rahmat langit.

 

Begitu deras arusnya, seakan ingin mengingatkan: 

"Hidup ini adalah aliran—menuju sesuatu yang lebih besar."

 

Melintang di antara Yogya dan Parangtritis, 

jalannya terputus oleh kali yang sama, 

tanpa jembatan yang menghubungkan dua daratan. 

Tapi bukan niat yang bisa diputus air. 

 

Kami menyeberanginya, 

langkah kaki membelah riak sungai, 

dingin menyentuh lutut, 

segar menyentuh jiwa. 

Dan di sanalah aku sadar: 

jalan lurus itu tidak selalu beraspal,

terkadang harus diseberangi dengan keyakinan.

 

Allah berfirman dalam Surat Al-Fatihah:

 

"Tunjukilah kami jalan yang lurus..." (QS. Al-Fatihah [1]:6)

 

Sebuah doa yang menjadi janji: 

bahwa selama kita mencari jalan lurus, 

selama itu pula jalan akan diberikan. 

Bahkan jika jembatan putus, 

Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya tersesat.

 

Dalam hadis pun disebutkan, 

tentang Shiratal Mustaqim,  

jembatan halus nan tajam yang harus dilewati di hari pembalasan. 

Lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, 

namun mereka yang beriman dan beramal saleh 

akan melaluinya dengan ringan, 

secepat kilat, atau secepat kedipan mata.

 

Jadi, apakah jembatan itu? 

Apakah hanya beton dan besi? 

Jembatan adalah usaha untuk tetap bersambung: 

dengan orang lain, dengan tanah leluhur, 

dan yang terpenting—dengan Allah SWT.

 

Jembatan adalah silaturahmi yang dirawat, 

adalah amal yang menjadi penolong di hari gelap, 

adalah ikhtiar yang menyambungkan kita 

dengan tujuan, dengan cita, dengan iman.

 

Dan Kali Opak yang terputus itu, 

bagiku adalah pengingat: 

bahwa selama hati masih yakin, 

tidak ada batas yang tak bisa dilampaui.

 

Aku terus berjalan menuju Parangtritis, 

bukan hanya karena tujuan, 

tapi karena setiap langkah adalah dzikir, 

setiap langkah adalah doa, 

dan setiap langkah adalah jembatan 

yang sedang kubangun sendiri.

 

***

 

Kali Opak, Medio Juni 1979

Karya: Budiyono

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "JEMBATAN KALI OPAK TERPUTUS"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel