-->

JALAN PATHUK-PIYUNGAN 2

Budiyono Dion, Bahasaku




JALAN PATHUK-PIYUNGAN 2

 

  Di antara desir angin dan deru roda, 

jalanku menggaris melintasi dada bumi, 

di sela-sela hutan belantara yang berbisik, 

di antara pohon jambu mete dan jati yang tegak dalam diam. 

 

Jalan Pathuk-Piyungan membuka diri— 

berliku seperti irama kehidupan, 

mengelok bagai gelombang di lautan jiwa, 

menapaki bukit-bukit yang menari perlahan dalam waktu. 

 

Setiap kelokan menyimpan cerita, 

setiap tanjakan mengajarkan kesabaran, 

dan dari atas lembah yang terhampar, 

aku menyaksikan lukisan Tuhan yang tak ternilai. 

 

Langit biru menyelimuti perjalanan ini, 

sinar matahari mengalir seperti rahmat yang tak pernah habis, 

sebagaimana firman-Nya: 

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin."(Az-Zariyat/QS.51:20)

 

Aku teringat sabda Rasulullah Saw.: 

"Tidaklah seseorang menanam tanaman atau memberi makan pada burung, melainkan baginya pahala sedekah." 

Setiap daun yang bergoyang, 

setiap akar yang menancap kuat di tanah, 

adalah bentuk cinta Allah pada makhluk-Nya. 

 

Di antara Pathuk dan Piyungan, 

aku menyusuri jalan membelah rimba, 

bukan hanya untuk sampai pada tujuan, 

tapi juga menemukan kembali arti syukur. 

 

Kaki melangkah, hati berdoa, 

agar alam ini tetap lestari, 

dan kita tidak menjadi tangan yang lupa akan amanah, 

namun menjadi penjaga yang setia pada ciptaan-Nya. 

 

*****

 

Pathuk, Medio Juni 1979 

Karya: Budiyono

 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "JALAN PATHUK-PIYUNGAN 2"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel