JALAN PATHUK-PIYUNGAN 1
JALAN PATHUK-PIYUNGAN 1
melengkung seperti ular naga yang meliuk,
liar namun indah, bagai hidung Petruk yang bergerak dinamis,
naik turun seperti naga melongok hendak menggapai langit.
Perjalanan ini seperti lagu tanpa akhir,
menyusuri garis waktu yang tak terhingga,
dari atas tanjakan tinggi,
aku menyaksikan panorama yang membuka mata hati.
Hutan lebat di sisi jalan,
seperti surga yang tersembunyi di antara manusia,
pohon-pohonnya rindang,
menggugurkan harta karun ciptaan-Nya.
Pohon jati, tegap dan kokoh,
memberikan kayunya untuk rumah, gedung, dan mebel,
sebuah simbol keteguhan dan kekuatan.
Sementara pohon mete, rendah hati,
menyediakan bijinya untuk kecukupan hidup manusia,
sebuah tanda kasih sayang yang tiada henti.
Namun, manusia sering lupa,
lupa bahwa setiap elemen alam adalah anugerah,
lupa bahwa mereka hanya penjaga, bukan pemilik.
Mereka menjamah alam dengan kejam,
tanpa sadar bahwa setiap kerusakan adalah pelanggaran besar.
Allah Swt. berfirman:
"Dan di bumi ada tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin."
(Al Imran/QS.3:90)
Tanda-tanda itu menjelma pepohonan yang rindang,
bukit-bukit yang megah, dan sungai-sungai yang mengalir.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Siapa saja yang menanam pohon atau menumbuhkan sesuatu, maka
ia akan mendapatkan pahala darinya selama ia memberikan manfaat."
Namun sebaliknya, siapa yang merusak,
akan bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
Oh manusia,
apakah engkau tidak menyadari?
Engkau diberikan kekuasaan atas bumi,
tetapi dengan tanggung jawab yang besar.
Bukan untuk dimanfaatkan secara egois,
tapi untuk dijaga dan dilestarikan.
Jalan Pathuk Piyungan ini,
tidak hanya sekadar jalur fisik,
tetapi juga jalan menuju kesadaran.
Setiap belokan adalah pengingat,
bahwa alam adalah cerminan kasih Allah,
dan kita harus menjaganya dengan sepenuh hati.
*****
Pathuk,
Medio Juni 1979
Karya:
Budiyono

0 Response to "JALAN PATHUK-PIYUNGAN 1"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar