DEWARUCI 3
DEWARUCI 3
(Pertemuan
dengan Sang Kapal Ilahi)
Aku berlayar di lautan batin yang tak bertepi,
menumpang kapal bernama Dewaruci,
kapal gaib yang membawa jiwa
menuju cahaya abadi.
Langit malam penuh bintang doa,
angin sunyi menggema seperti dzikir orang-orang khusyuk.
Di sini, waktu selalu berarti,
yang ada hanyalah gerak dan arah menuju-Nya.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."(Adz-Dzariyat/QS.51:56)
Kapal ini bukan terbuat dari kayu biasa,
tapi dari kayu gung susuhe angin,
pohon besar yang berlubang di tengah,
simbol hati yang lapang,
tempat ruh dan wahyu bersatu.
Dua kulit hewan menutupinya,
simbol kesederhanaan dan keikhlasan,
seperti kulit binatang yang dikorbankan
di jalan Allah.
Aku duduk di geladak kapal,
menghitung debur ombak sebagai irama dzikir,
melihat bulan purnama Gunung Candra Muka
memancarkan cahaya ilham.
Tiba-tiba,
naga raksasa muncul dari kedalaman samodra minangkalbu,
sombong, nafsu, dan lupa diri
berubah wujud menjadi monster laut.
Ia menggoyang kapal,
mencoba menenggelamkan imanku,
mengajakku kembali ke daratan dunia fana,
tempat kemewahan menyilaukan mata.
Tetapi Dewaruci tetap kokoh,
dengan tiangnya yang tegak seperti mimbar khutbah,
dan layarnya yang berkibar seperti sajadah di atas tanah suci.
"Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
maka mereka akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan
orang-orang saleh..." (An-Nisa/QS.4:69)
Aku pegang erat tali kapal itu,
taqwa sebagai ikatannya,
dzikir sebagai pelindungnya,
dan shalat sebagai penyeimbang langkah.
Lalu, dalam diam,
aku mendengar suara lembut dari dalam perut kapal:
"Wahai musafir sejati, engkau telah sampai pada akhir
pencarianmu...
bukan karena usahamu sendiri,
tapi karena rahmat-Nya yang meliputi segalanya."
Mataku berkaca-kaca,
bukan karena sedih,
tapi karena bahagia…
akhirnya aku mengerti:
hidup ini bukanlah milikku,
tapi amanah dari-Nya.
Byurrr…
Ombak terakhir datang,
membawa kapal Dewaruci merapat di tepian cahaya,
pelabuhan akhir yang disebut ridha.
Di sanalah aku berdiri,
seorang musafir yang pulang,
tidak membawa apa-apa,
selain iman dan taubat.
"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing
atau seorang musafir."(HR. Bukhari-Muslim)
Aku tersenyum,
karena akhirnya aku memahami arti hadis itu secara utuh:
bahwa hidup adalah perjalanan,
dan tujuan akhirnya hanyalah Allah.
*****
Budiyono
Cawas, akhir Juni 1979
(ditulis dalam hening, setelah perjalanan panjang)
Catatan Penyair:
DEWARUCI 3 adalah penutup dari trilogi perjalanan
spiritual, menggambarkan pertemuan dengan makna sejati hidup, yaitu pengabdian
total kepada Allah SWT. Puisi ini menggunakan simbol-simbol mitos Jawa
(Dewaruci, Naga Raksasa, Kayu Gung Susuhe Angin) untuk menyampaikan pesan-pesan
sufistik dan nilai-nilai Islam yang mendalam.
Saran Penggunaan:
Trilogi DEWARUCI ini bisa dipentaskan dalam bentuk monolog teatrikal dengan
iringan musik tradisional dan visual seni lukis Jawa-Islami.

0 Response to "DEWARUCI 3"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar