Doa di Padang Cahaya
Doa di Padang Cahaya
(Terinspirasi dari hadis tentang doa terbaik di hari Arafah)
Oleh: Budiyono
Di padang sunyi yang ditimpa cahaya,
angin membawa lirih zikir semesta.
Langit tak bersuara, tapi menyimak,
bumi bersujud tanpa jeda,
sementara insan insan berhaji berjalan
mendaki lembah pengampunan.
Di sana,
air mata tak sekadar gugur,
ia menetes sebagai tinta taubat
di lembaran langit yang terbuka.
Hari Arafah—bukan sekadar nama,
ia fajar keabadian yang menyingsing
di antara pasir dan doa yang membara.
Setiap desir napas adalah permohonan,
setiap detak jantung—sebuah pujian,
menggema di antara gema takbir
dan lafaz mulia yang kekal abadi:
Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa
syariika lah,
lahul mulku, walahul hamdu,
wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.
Tiada ilah selain Dia,
tiada sekutu dalam kerajaan-Nya,
tiada celah bagi cela,
segala pujian mengalir ke Arasy-Nya
bagai sungai cahaya tak bertepi.
Ini bukan sekadar doa,
ini adalah bahasa langit,
yang dahulu dibisikkan para nabi,
disemayamkan dalam dada para wali,
ditumbuhkan di ladang sabar dan harap
hingga mekar jadi dzikir abadi.
Hari Arafah,
adalah samudra yang menerima
segala perahu hati yang karam.
Dan ucapan tauhid—
adalah jangkar yang meneguhkan jiwa,
saat dunia hanyut dalam arus fana.
Maka, berdoalah, wahai pencari ampun,
bukan hanya dengan kata,
tapi dengan jiwa yang menanggalkan debu dunia.
Berserulah—
seperti Ibrahim berseru dalam sepi,
seperti Muhammad berseru dalam cinta:
Tiada Tuhan selain Engkau,
Yang Maha Esa,
Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu
Yang Maha Segalanya
*****
Cawas, Kamis Pon, 9 Zulhijah 1446
5 Juni 2025

0 Response to "Doa di Padang Cahaya"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar