-->

Pendekatan Intertekstual

Budiyono Dion, Bahasaku



                                                    Pendekatan Intertekstual

Istilah intertekstual pada umumnya dipahami sebagai hubungan suatu teks dengan teks lain. Suatu teks merupakan sebuah mozaik kutipan-kutipan. Suatu teks merupakan penyerapan dan transformasi dari teks-teks lain, seperti yang dinyatakan Kristeva (1980:66), “any text is constructed as a mosaic of quotations; any text is the absorption and transformation of another”. Intertekstualitas adalah kehadiran suatu teks  pada suatu teks lain. Pengertian teks bukan hanya terbatas kepada cerita, tetapi juga mungkin berupa teks bahasa.

Pemikiran Kristeva mengenai intertekstualitas tersebut (Junus, 1985: 87), dapat dirumuskan sebagai berikut.
a.    kehadiran suatu teks di dalam teks yang lain,
b.    selalu adanya petunjuk yang menunjukkan hubungan antara suatu teks dengan teks-teks pendahulu,
c.    adanya fakta bahwa penulis suatu teks telah pernah membaca teks-teks pemengaruh sehingga nampak jejak,
d.   pembaca suatu teks tidak akan pernah bisa membaca teks secara pisah dengan teks-teks lainnya. Ketika ia membaca (dalam rangka memahami) suatu teks, ia membacanya berdampingan dengan teks-teks lain.
Salah satu cara untuk dapat memahami makna karya sastra secara total adalah dengan jalan melihat hubungan intertekstual antara karya sastra yang memiliki hubungan kesejajaran, baik dengan karya yang mendahului maupun karya sastra yang sezaman. Intertekstual adalah masuknya teks lain ke dalam suatu teks, saling menyilang dan menetralisasi satu               dengan lainnya.
Setiap teks merupakan penyerap atau transformasi teks-teks lain. Sebuah karya sastra merupakan penyerapan dan transformasi hipogramnya. Masuknya suatu teks ke dalam teks lain adalah hal wajar terjadi dalam karya sastra, sebab pada hakikatnya suatu teks merupakan bentuk absorsi dan transformasi dari sejumlah teks lain, sehingga terlihat sebagai suatu mosaik.
Sejalan dengan pendapat tersebut, dalam prinsip intertekstualitas ini, Ratna (2011:216 ), menyatakan, tidak ada karya yang  asli dalam pengertian yang sesungguhnya. Artinya, sesuatu karya seni diciptakan dalam keadaan kosong tanpa referensi dunia lain. Teori interteks dapat mengidentifikasi lautan teks, memasukkannya ke dalam peta pemahaman sehingga menghasilkan karya yang baru. Karya baru yang dihasilkan sebagai mosaik kutipan.
Teori interteks, dengan menganggap bahwa segala sesuatu adalah teks, sebagai teks  informal, maka teori interteks menembus sekat pemisah antardisiplin, sehingga berbagai ilmu merupakan objek bagi ilmu yang bersangkutan. Karya sastra mengambil sumbernya melalui seni lukis, seni bangunan, seni tari, kepercayaan kuno, adat-istiadat dan sebagainya. Sebaliknya, seni lukis, seni tari, seni bangunan dapat mengambil sumbernya dari seni sastra. Interteks membangun jaringan baru yang selama ini terpecah-pecah, mengembalikan yang terdegradasikan, yang terpinggirkan dan terlupakan, mengembalikan objek yang kurang bermakna menjadi bermakna. Teori interteks menganggap, tidak ada makna yang asli, makna tidak melekat dalam objek, pada gilirannya semua objek menjadi bermakna sebab makna diperoleh melalui perluasan, penggantian dan pembaruan dalam arti seluas-luasnya.
Makna sebuah karya sastra tidak lepas dari konteks sejarah dan konteks sosial-budayanya. Sebab, sastra tidak lahir dari kekosongan kebudayaan. Sebuah karya sastra, mempunyai  hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Menurut Riffaterre (Pradopo, 2011:167), hubungan sejarah ini baik berupa persamaan ataupun pertentangan. Bahwa teks sastra yang menjadi latar penciptaan karya sastra sesudahnya itu disebut hipogram. Setiap teks sastra itu merupakan mosaic kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain. Dunia ini adalah teks. Teks tidak hanya tulisan, bahasa atau cerita lisan, tetapi juga termasuk; masyarakat, adat dan aturan-aturan. Begitu pula benda-benda alam seperti;  air, batu, pohon adalah termasuk teks.
Atas dasar pandangan itu, intertekstual memandang setiap teks sastra perlu dibaca dengan latar belakang teks-teks lain. Artinya, penciptaan dan pembacaan tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai acuan. Namun, hal itu tidak berarti bahwa teks baru hanya mengambil teks-teks sebelumnya sebagai acuan, tetapi juga bisa menyimpangi dan mentransformasikannya dalam teks-teks yang dicipta kemudian.
Dari segi teori sastra, prinsip intekstualitas memiliki aspek lain, yakni membawa kita untuk memandang teks-teks terdahulu sebagai suatu sumbangan pada suatu kode yang memungkinkan efek signification, pemaknaan yang beragam (Al-Ma’ruf dalam http://aliimronalmakruf.blogspot.com, 2011).
Dengan demikian, intertekstualitas tidak hanya penting dalam usaha memberi interpretasi tertentu terhadap karya sastra yang kongkret saja, lebih dari itu, prinsip intertekstualitas memainkan peran sangat penting dalam semiotik sastra. Baca juga penedekatan Struktural

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pendekatan Intertekstual"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel