Pendekatan Semiotik
Pendekatan Semiotik
Pada postingan terdahulu saya menyampaikan uran tentang pendekatan struktural. Pada kesempatan ini saya akan mengungkapkan uraian tentang pendekatan semiotik dalam kajian karya sastra.
Strukturalisme
adalah sebuah metode yang
telah diacu oleh
banyak ahli semiotik. Hal
itu didasarkan pada model
linguistik struktural De Saussure. Strukturalis mencoba
mendeskripsikan sistem tanda sebagai
bahasa. Mereka bekerja mencari struktur dalam (deep structure) dari bentuk struktur luar (surface structure) sebuah fenomena. Semiotik sosial kontemporer
telah bergerak di
luar perhatian struktural
yaitu menganalisis hubungan-hubungan internal bagian-bagian dengan a self contained system, dan mencoba mengembangkan
penggunaan tanda dalam situasi sosial yang spesifik (Sartini dalam www.journal.unair.ac.id,2011).
Menurut
Preminger (Pradopo, 2007:224-225), semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda, mempelajari
fenomena sosial budaya, termasuk sastra sebagai sistem tanda.
Tanda, dalam semiotik, terdiri dari penanda dan petanda. Penanda (signifier)
adalah bentuk formal yang menandai petanda. Sementara petanda (signified)
adalah sesuatu yang ditandai penanda itu, yakni artinya. Berdasarkan hubungan
antara penanda dan petanda. Ada tiga jenis tanda. Yang pertama dalam bentuk ikon, yakni hubungan yang bersifat
alamiah. Contoh gambar kuda menunjukkan hubungan antara tanda kuda dengan kuda
yang sebenarnya (alami). Yang kedua dalam bentuk indeks, yakni hubungan kausalitas. Contoh asap menandai adanya api.
Yang ketiga simbol, yakni tidak
bersifat alamiah atau kausalitas melainkan hubungannya bersifat arbitrer
(semau-maunya). Contoh kata “ibu” atau gambar “bulan bintang” maknanya tidak
bisa ditentukan begitu saja, ia ditentukan oleh sebuah konvensi.
Jasa
dua orang ahli semiotika yang tidak dapat dilupakan yakni Ferdinand De Saussure dan Charles Sanders
Peirce, karena perkembangan semiotika selanjutnya sangat dipengaruhi oleh dua
ahli ini. Saussure mengembangkan semiotikanya berdasarkan linguistik Eropa,
sedangkan Pierce berdasarkan filsafat. Jika diperhatikan ada perbedaan
pandangan dari keduanya. Saussure cenderung mempersoalkan “struktur dalam” pada tanda-tanda dengan menunjukkan
proses penandaan itu pada sistem diadik,
yakni penanda dan petanda. Sebuah penanda dikaitkan dengan
petandanya yang berupa konsep dan konsep itu merupakan sesuatu yang ada dalam
benak seseorang, sehingga tidak perlu dikaitkan dengan realitas. Misalnya kata
“kucing” sebagai penanda, tidaklah dikaitkan dengan kucing sebagai seekor
binatang, tetapi dikaitkan dengan konsep yang ada dalam batin atau ingatan
manusia (Nasution, 2008:110).
Berbeda
dengan apa yang dikonsepkan oleh Peirce dalam proses penandaannya. Peirce
terkenal dengan triadiknya,
yakni representamen, objek,
dan interpretant. Representamen
berfungsi sebagai penanda dan objek
sebagai petanda, tetapi relasi
fungsional itu baru terjadi jika saling dikaitkan oleh interpretant.
Peirce mengakui eksistensi realitas objektif yang berperan dalam pembentukan
tanda (Masinambow, dalam Nasution, 2008:111).
Barthes
mengembangkan pandangan Saussure itu pada tingkatan-tingkatan proses penandaan.
Penandaan
adalah (Barthes, 2012:43), tindakan mengikat penanda dengan petanda, tindakan
yang hasilnya adalah tanda. Selanjutnya Barthes (2012:27-50), menyatakan, dalam
termenilogi Saussurean, penanda dan petanda merupakan komponen dari tanda. Untuk
menguji sebuah tanda ‘secara sendiri’, yakni berurusan hanya pada hubungan
antara penada dengan petanda, merupakan abstraksi yang semena. Tanda bukan lagi
menurut komposisisnya, tetapi dengan memperhitungkan hal-hal yang menjadi latar
keberadaannya. Ini merupakan perkara nilai. Nilai berhubungan erat dengan
konsep bahasa.
Dengan
bantuan diagram Roland Barthes, maka
sastra sebagai sistem kode
tataran kedua secara metodik akan dapat dijelaskan. Menurut Barthes,
“tanda” dalam sistem pertama, yakni asosiasi total antara konsep dan imajinasi, hanya menduduki posisi sebagai
“penanda” dalam sistem yang kedua. Diagram Roland Barthes mengenai “penanda”,
“petanda”, dan “tanda” dapat divisualisasikan dalam bagan berikut:
1. Penanda 2. Petanda
|
|
3.
Tanda
I.
PENANDA
|
II.
PETANDA
|
III.
TANDA
|
|
Bagan: Semiotika Model Roland Barthes (2012:95)
Pada
diagram di atas terdapat dua tataran, yakni
tataran sistem tanda pertama, dan tataran sistem tanda kedua. Jika sistem
diagram Barthes tersebut diimplementasikan ke dalam analisis dimensi religiusitas
novel SP, dapat dijelaskan sebagai
berikut.
Pada
tataran sistem tanda pertama, dimensi religiusitas bergayut pada
acuan referensial di luar novel SP. Pada tataran ini konsep yang berlaku adalah konsep mimesis
Plato: dimensi religiusitas didudukkan pada gambaran tiruan dari realitas. Guna
memberi makna pada novel SP, maka novel
SP harus didudukkan sebagai kreasi (creatio), seperti konsep mimesis model
Aristoteles. Artinya, untuk mengungkapkan dimensi religiusitas novel SP, maka novel SP harus didudukkan pada tataran kedua diagram Roland Barthes.
Ketika
berhadapan dengan dimensi religiusitas sebagai tanda diubah menjadi penanda dalam
konkretisasi pembaca, maka sifatnya sebagai tanda tidak hilang,
melainkan tetap berfungsi sebagai alat asosiasi mimetik, yang bertegangan dengan kreasi (creatio). Pada proses ketika tanda berubah menjadi penanda dalam konkretisasi
yang dilakukan pembaca, maka dimensi religiusitas tidak lagi berada dalam
deretan kenyataan yang ditirunya, melainkan masuk ke dalam sistem komunikasi
sastra.
Menurut
Chamamah-Soeratno (dalam Al-Ma’ruf, 2007:33), dalam konkretisasi
karya itu, suatu karya sastra
dimungkinkan memperoleh makna yang bermacam-macam mengingat adanya berbagai kelompok
pembaca, yang dipengaruhi oleh faktor yang variabel, sesuai dengan masa, tempat
dan keadaan sosio-budaya yang melatarinya. Dengan demikian perubahan latar
belakang sosial pembaca akan mempengaruhi makna yang diungkapkannya.
Menurut
Nasution (2008:110),
semiotika mempertimbangkan kode dan sekaligus memperlihatkan adanya sistem.
Sistem itu bisa saja terbentuk dari sistem yang ada pada penulis dan pembaca.
Hal inilah yang terkadang membuat pemahaman terhadap sebuah karya sastra
menjadi tidak sama, bahkan tidak wajar.
Pandangan
semiotika bukan hanya dapat menghubungkan sistem dalam karya itu sendiri,
tetapi juga dengan sistem di luarnya, dengan sistem dalam kehidupan. Namun, hal
itu tergantung pada kesanggupan seorang pembaca untuk menghubungkannya, tentu saja
kesanggupan pembaca untuk memahami kehidupan itu sendiri. Semua itu tentu saja
dibantu oleh ilmu bantu lainnya, seperti pendekatan intertekstual.
0 Response to "Pendekatan Semiotik"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar