DESKRIPSI MALAM YANG SYAHDU DALAM PUISI JAWA DHEDHEP TIDHEM PRABAWANING RATRI
Dhedhep Tidhem Prabawaning Ratri
Dhedhep tidhem prabawaning ratri/ Sasadara wus manjer kawuryan/ Tan kuciwa memanise/ Menggep srinateng ndalu/ Siniwaka sanggya pra dhasih/ Angglar neng cakrawala/ Winulat ngelangut/ Prandene paksa kebegan/ Saking kehing taranggana kang sumiwi/ Warata tanpa sela/
Terjemahan bebas:/ Sunyi senyap karena pengaruh malam/ Rembulan sudah tampak berpendar/ Tidak mengecewakan keelokannya/ Bagaikan sang raja malam/ Hadir di hadapannya seluruh para kawula/ Tergelar di cakrawala/ Terlihat menerawang jauh/ Namun demikian masih terasa sesak/ Sebab banyaknya bintang yang menghadap/ Merata rapat tiada berjarak/
Saya masih ingat awal awal kuliah pada jurusan pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia dulu, kami mahasiswa diperkenalkan Dosen tentang karya puisi. Karya puisi yang diperkenalkan kepada mahasiswa waktu itu adalah puisi dalam Bahasa Jawa yang berjudul “Dhedhep Tidhem Prabawaning Ratri” kebetulan puisi itu ada dalam kutipan buku lama yang berjudul “Karya Seni” (maaf saya sudah agak lupa judul bukunya) ditulis oleh Oleh Ir.Mulyono (buku itu dulu saya miliki tetapi setelah saya lulus dimanfaatkan teman).
Puisi Jawa yang berjudul "Dhedhep Tidhem Prabawaning Ratri" ini mengandung nuansa malam yang sangat mendalam, menggunakan bahasa Jawa klasik yang kaya dengan metafora dan simbolisme. Berikut kurang lebih analisis dari puisi tersebut.
1. "Dhedhep tidhem prabawaning ratri" Ungkapan ‘Dhedhep tidhem’ berarti sesuatu yang terkait dengan gerakan atau pergerakan yang diam, mungkin mengacu pada ketenangan malam. Ungkapan Prabawaning ratri bisa diartikan sebagai pengaruh atau pengaruh malam. Pada baris ini, puisi seolah menggambarkan suasana malam yang tenang dan penuh pengaruh.
2. "Sasadara wus manjer kawuryan" Kata ‘Sasadara’ berarti saudara atau keluarga, tetapi dalam konteks ini bisa lebih luas, merujuk kepada hubungan atau keterkaitan antar manusia. Ungkapan ‘Manjer kawuryan’ bisa diartikan sebagai masuk dalam keadaan atau kesadaran, mungkin menggambarkan suasana malam yang membawa kesadaran atau perenungan.
3. "Tan kuciwa memanise" Ungkapan ‘Tan kuciwa’ berarti tidak kecewa, sedangkan memanise berarti sesuatu yang manis atau indah. Ini menyiratkan suasana yang damai dan penuh penerimaan tanpa ada kekecewaan. Katakanlah keindahan yang sempurna.
0 Response to "DESKRIPSI MALAM YANG SYAHDU DALAM PUISI JAWA DHEDHEP TIDHEM PRABAWANING RATRI"
Post a Comment
mohon meninggalkan komentar