-->

Sejenak Mengamati Tradisi Mudik Lebaran

Budiyono Dion, Bahasaku



Sejenak Mengamati Tradisi Mudik Lebaran

Acara mudik lebaran menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia pada 1 syawal. Mudik lebaran merupakan tradisi inklusif, yang di dalamnya terkandung benih ikatan-batiniah yang sangat dalam dan ikatan kekeluargaan yang luhur. Tradisi mudik merupakan proses dari suatu dialektika-budaya yang telah berjalan di dalam masyarakat Indonesia hingga saat ini.  Tradisi ini telah menyatu tanpa batas dengan segala keunikannya di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang di dalamnya terlukis kehidupan yang nyata dari dinamika budaya Indonesia yang sangat menawan.
Menurut Nurcholis Madjid (almarhun), lebaran adalah hari raya kemanusiaan. Karena itu wajar, jika setiap 1 Syawal seluruh umat Islam saling maaf-memaafkan dan saling mengunjungi, sebab sikap seperti itu memang yang dianjurkan agama. Setiap umat islam pada hari Raya tersebut, sepatutnya tampil sebagai manusia dengan nilai-nilai yang setiap setahun. Ttradisi mudik lebaran yang setiap setahun sekali diiringi dengan tradisi minal aidin walfaidzin penuh kemulian mempunyai gravitasi (gaya tarik), hingga membuat anggota masyarakat di dalam komunitasnya tercerai berai oleh karena “gerak-rotasi” pencarian nafkah hidup, yang selalu memendam rasa romantika rindu ingin membangun kembali tali-silaturahmi terhadap orang tua, kakak, abang, adik, sanak keluarga atau teman sejawat yang sudah lama ditinggalkan.
Dalam lintasan waktu tradisi mudik bagi orang tertentu yang telah lama di tanah rantau ternyata juga mampu merangkum beragam bentuk potensial sosial religiusitas yang cukup dalam, selain juga merangkum emosi atau pengukuhan mitos – yang lebih luas. Di dalam tradisi mudik juga harus diakui banyak terakumulasi kesadaran doctrinal, yang mungkin irrasional, yang mungkin menjadi karakter kepribadian setiap manusia, yang mempertaruhkan kehidupannya di rantau.
Oleh pemikiran Moslow, orang mudik Lebaran tak lepas secara psiko-sosial karena mereka ingin juga diakui eksistensi-Nya. Pada kenyataan bahwa pengakuan itu memang mahal. Kepada tetangga, para orang tua mereka dikampung halaman bisa berbangga lihat aku punya anak pulang. Terlebih ia bisa menunjukkan, lihat aku suskses di Jakarta atau di perantauan.
Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung.
Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain.
Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, selain silaturahim.
Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu.
Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).
Yang jelas, tradisi mudik lebaran sudah menjadi pilihan bagi perantau untuk pulang kampung bersama keluarga. Momentum lebaran itu menjadi pilihan bagi perantau untuk berkumpul bersama keluarga di kampung.
Hari lebaran Idul Fitri. relatif banyak cerita tentang barang berharga milik mereka yang telah ia gadaikan agar bisa pulang mudik. Sementara ada juga yang menghutang pada tetangga , teman, saudara atau rentenir kecil atau kelas menengah yang berada ditempat tinggalnya. Oleh karena itu, seolah dalam keadaan seperti itu maka resiko apapun akan ditempuh agar bisa mudik Lebaran tepat waktunya. Bagi mereka tidak ada kata segan-segan mengupayakan berbagai cara melalui percepatan eksodus untuk bisa tiba di kampung halaman dan bisa berkumpul keluarga, tetangga kampung, dan teman lama.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejenak Mengamati Tradisi Mudik Lebaran"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel