-->

Puisi

Budiyono Dion, Bahasaku

Puisi 



Menurut Pradopo (2000:7), puisi merupakan alat mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.
Puisi sepanjang waktu selalu berubah. Perubahan ini disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak berbah, yakni puisi itu mengucapkan sesuatu hal dengan arti yang lain. Ketidaklangsungan itu menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2000:12),  desebabkan oleh tiga hal, yaitu (1) penggantian makna, (2) penyimpangan, dan (3) penciptaan makna. Penggantian makna terjadi pada ambuguitas, kontradiksi, dan nonsense, sedangkan penciptaan arti terjadi pada pengorganisasian ruang teks, seperti penyejajaran tempat (homologues), enjabemen, dan tipografi.
Menurut Hudson (dalam Kasnadi, 2008:2), puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medium penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.
Pada hakikatnya puisi menurut Waluyo (1987:25), adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun denngan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Menurut Sarumpae (2004:2), hakikat puisi adalah pengungkapan tabir : dengan susunan kata yang kaya akan imaji, dengan penyingkapan pendirian atau keyakinan penulis, pemahaman kita dipertajam sehingga dapat melihat pengalaman kita sendiri dengan empati yang tulus dapat berbagi pengalaman atau impian dengan orang lain.
Menurut Pradopo (2010:315), hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formalnya meskipun   bentuk formal itu penting. Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga, Hal ini disebabkan di dalam puisi modern terkandung kakikat puisi ini, yang tidak berupa sajak (persamaan bunyi), jumlah baris, ataupun jumlah kata pada tiap barisnya.Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti hakikat puisi itu. Pertama, sifat seni atau fungsi estetik. Puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan di dalamnya ada unsur-unsur estetiknya.Unsur-unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuistisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasa (bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu). Kedua, kepadatan. Yang dikemukan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita. Ketiga,ekspresi yang tidak langsung. Maksudnya adalah menyatakan suatu hal dengan arti yang lain.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian puisi menyiratkan beberapa hal penting sebagai berikut  (1) puisi merupakan ungkapan pemikiran, gagasan, ide, dan ekspresi penyairnya; (2) bahasa puisi bersifat konotatif, simbolis, dan lambang karena itu penuh dengan imajinasi, metafora, kias, dengan bahasa figuratif yang estetis; (3) penyusunan larik-larik puisi memanfaatkan pertimbangan bunyi dan rima semaksimalnya; (4) penulisan puisi terjadi pemadatan kata dengan berbagai bentuk kekuatan bahasa yang ada; (5) unsur pembangun puisi yang mencakup batin dan lahir puisi membangun kekuatan yang padu; (6) bahasa puisi tidak terikat oleh kaidah  kebahasaan umumnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan ungkapan, pikiran, dan perasaan yang padat dan berirama dalam bentuk larik dan bait dengan memakai bahasa yang indah dalam koridor estetik. Dalam pengertian lain puisi merupakan pernyataan yang berisi pengalaman batin sebagai hasil dari proses kreatif terhadap sesuatu yang diungkapkan secara tidak langsung atau merupakan pernyataan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi"

Post a Comment

mohon meninggalkan komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel